Terungkap Alasan Stadion Piala Dunia di AS Banyak yang Tak Beratap

Piala Dunia 2026 akan digelar di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Total ada 16 stadium yang digunakan untuk menggelar pertandingan dari babak penyisihan grup hingga final.
Dari ke-16 stadium tersebut, 11 di antaranya berada di AS. Ke-11 stadion yang digunakan bukan kualitas kaleng-kaleng, punya teknologi canggih hingga dapat menampung puluhan ribu penonton.
Walau punya kapasitas besar, beberapa stadion di AS yang digunakan untuk Piala Dunia 2026 tidak memiliki atap. Alhasil, penonton yang datang bisa merasa kepanasan saat siang atau basah kuyup ketika turun hujan.
Contohnya San Francisco Bay Arena Stadium yang berada di Santa Clara, California. Stadion berkapasitas 70.000 penonton ini tidak dilengkapi atap sama sekali.
Padahal, stadion yang dibangun pada 2012 itu menelan biaya hingga US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 21,5 triliun (kurs Rp 18.000). Namun, angka sebesar itu tidak meliputi pemasangan atap untuk melindungi penonton.
Stadion yang punya nama lain Levi’s Stadium itu dibangun pada era modern yang seharusnya sudah memiliki atap. Layaknya stadion-stadion modern lainnya di Eropa dan Asia.
Ternyata, ada sejumlah alasan mengapa Levi’s Stadium dan beberapa stadion besar di AS nggak pakai atap.
Dilansir dari Live Science, faktor utamanya karena biaya pembangunan atap yang besar. Untuk pemasangan atap dengan kapasitas stadion 70.000-100.000 kursi bisa menelan biaya sekitar US$ 100-150 juta atau Rp 1,7-2,6 triliun.
“Entah itu banyak memakan baja atau kabel, konstruksi berbentuk kubah atap itu sangat menantang karena banyak penyangga sementara selama proses pembangunan,” kata Mark Waggoner, eks pemimpin perusahaan teknik Walter P. Moore yang merancang atap bergerak untuk stadion.
Menurut Waggoner, membangun atap dasar di atas stadion saja sudah terbilang rumit, apalagi jika memasang struktur atap yang bisa dibuka dan ditutup maka tantangannya semakin besar.
“Atap (stadion) yang dapat dibuka tutup merupakan sebuah lompatan besar karena membangun atap dasar di atas stadion saja sudah merupakan tantangan,” ungkapnya.
Waggoner menyebut pemasangan atap stadion yang bisa dibuka-tutup perlu menambah biaya lagi hingga US$ 150 juta atau Rp 2,6 triliun. Sedangkan untuk atap permanen dapat menelan biaya hingga US$ 40 juta atau Rp 720 miliar.
Contohnya saat pembangunan New York New Jersey Stadium yang awalnya dirancang dengan atap dibuka-tutup. Namun, stadion yang dimiliki oleh dua klub NFL itu, New York Giants dan New York Jets, menolak rencana itu karena keberatan dengan biayanya. Alhasil, stadion tersebut sampai sekarang tidak memiliki atap.
Sebagai informasi, New York New Jersey Stadium bakal digunakan sebagai venue final Piala Dunia 2026.
Pemasangan Atap Stadion juga Sesuai Kebutuhan
Waggoner berujar pemasangan atap stadion bisa ditentukan sesuai kebutuhan. Apabila stadion digunakan untuk berbagai acara seperti konser musik atau rodeo maka lebih cocok membangun stadion dengan atap tertutup.
“Jika suatu kota menginginkan stadion digunakan dalam konser, rodeo, atau acara sepanjang tahun lainnya, bangunan tertutup adalah pilihan yang tepat,” ujarnya.
Lain halnya kalau stadion digunakan untuk menggelar pertandingan olahraga, seperti sepak bola, baseball, atau American Football, maka stadion didesain tidak memiliki atap atau punya atap yang bisa dibuka-tutup.
Sayangnya, stadion yang tidak memiliki atap turut mengganggu kenyamanan penonton yang hadir. Saat musim panas mereka akan merasa gerah, sedangkan saat musim dingin harus mengenakan jaket tebal karena udara yang menusuk kulit.
“Tentu saja di wilayah Selatan misalnya, cuaca panas berperan penting dalam kenyamanan penonton selama pertandingan,” imbuh Waggoner.
Sumber:DETIK



