Juventus Belum Layak Disebut Tim Hebat, Lele Adani Soroti Masalah Besar Bianconeri
Pemain Sassuolo Luca Lipani (depan) berebut bola dengan pemain Juventus Teun Koopmeiners dalam pertandingan Serie A, Senin (14/9/2026). (c) Massimo Paolone/LaPresse via AP
Juventus kembali menjadi sorotan setelah menelan kekalahan dari Sassuolo dalam lanjutan Serie A 2026/2027. Hasil negatif tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan Bianconeri untuk bersaing dengan tim-tim terbaik Italia musim ini.
Mantan pemain Timnas Italia, Lele Adani, menjadi salah satu sosok yang memberikan kritik terhadap performa Juventus. Menurutnya, tim asuhan Luciano Spalletti masih memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum benar-benar bisa disebut sebagai tim hebat.
Masalah Juventus tidak hanya berkaitan dengan hasil pertandingan. Inkonsistensi permainan, cedera pemain, hingga kesalahan individu dinilai menjadi faktor yang membuat Bianconeri kesulitan menunjukkan performa terbaik.
Juventus Masih Kesulitan Menemukan Konsistensi
Kehadiran Luciano Spalletti sempat membawa optimisme besar bagi Juventus. Pengalaman panjang sang pelatih, termasuk keberhasilannya membawa Napoli meraih Scudetto pada 2023, membuat ekspektasi terhadapnya cukup tinggi.
Namun, perjalanan Juventus pada awal musim ini belum sepenuhnya sesuai harapan.
Bianconeri masih kesulitan mempertahankan level permainan dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Di saat yang sama, kondisi sejumlah pemain yang mengalami cedera turut menyulitkan Spalletti dalam menentukan komposisi terbaik.
Kesalahan individu juga menjadi masalah yang tidak bisa diabaikan. Dalam pertandingan ketat, satu keputusan atau kesalahan kecil dapat menentukan hasil akhir.
Lele Adani Kritik Kualitas Juventus
Lele Adani menilai Juventus saat ini masih belum berada pada level yang pantas untuk disebut sebagai sebuah tim hebat.
Ia menyoroti bagaimana beberapa pemain belum mampu memberikan performa maksimal. Francisco Conceicao, Lloyd Kelly, hingga Randal Kolo Muani menjadi beberapa nama yang disinggung terkait kesalahan yang dapat merugikan tim.
Bagi Adani, persoalannya bukan hanya mengenai kualitas individu. Juventus juga harus mampu menciptakan sistem permainan yang membuat setiap pemain dapat mengeluarkan kemampuan terbaik mereka.
Ketika kesalahan terus terjadi dalam pertandingan penting, peluang mendapatkan hasil maksimal tentu semakin kecil.
Spalletti Punya Pekerjaan Besar
Situasi tersebut membuat Luciano Spalletti menghadapi tantangan besar.
Pelatih berpengalaman itu harus menemukan solusi untuk membuat permainan Juventus lebih stabil sekaligus mengurangi kesalahan yang sebenarnya dapat dihindari.
Cedera memang menjadi salah satu hambatan, tetapi Juventus tetap dituntut mampu memaksimalkan kedalaman skuad yang tersedia.
Spalletti juga perlu menemukan keseimbangan antara lini belakang, tengah, dan depan agar Bianconeri tidak terlalu mudah kehilangan kontrol pertandingan.
Juventus Masih Punya Waktu untuk Bangkit
Meski awal musim belum berjalan sempurna, Juventus masih memiliki cukup banyak pertandingan untuk memperbaiki keadaan.
Kekalahan dari Sassuolo dapat menjadi peringatan penting bagi seluruh pemain. Jika ingin kembali bersaing di papan atas Serie A, Bianconeri harus segera menemukan konsistensi.
Kualitas pemain saja tidak cukup. Juventus membutuhkan permainan kolektif yang lebih solid, minim kesalahan, serta mentalitas yang kuat ketika menghadapi tekanan.
Kini tantangan terbesar Spalletti adalah mengubah potensi yang dimiliki skuadnya menjadi performa nyata di lapangan. Jika tidak segera berbenah, Juventus berisiko semakin tertinggal dalam persaingan dengan klub-klub papan atas Serie A.
