Demam Ghibli Melanda Bumi Maya: Kecerdasan Buatan Ciptakan Animasi ala Studio Ghibli, Pro juga Kontra Berkecamuk!

JAKARTA – Jagat maya kembali bergejolak. Kali ini, tren menciptakan ilustrasi ala Studio Ghibli menggunakan kecerdasan buatan (AI) menjadi perbincangan hangat. Keindahan kemudian kelembutan gaya animasi Negeri Sakura yang khas ini sekarang ini dapat diciptakan dengan mudah oleh siapa saja, berkat kekuatan AI.
Namun, di dalam balik kekaguman akan kecanggihan teknologi, terselip pro kemudian kontra yang mana mewarnai fenomena ini. Fenomena ini dipicu oleh unggahan akun X (Twitter) @ainunnajib. Ia membagikan sejumlah ilustrasi yang tersebut menampilkan momen-momen bersejarah Indonesia, dikemas dengan gaya Ghibli yang tersebut memukau.
Mulai dari pembacaan teks proklamasi, momen Presiden Soekarno juga Soeharto, hingga pelantikan Presiden Prabowo kemudian Gibran, semuanya dihidupkan kembali dengan sentuhan magis AI.
“Foto-foto bersejarah bangsa Indonesia dengan gaya anime Studio Ghibli,” tulis akun tersebut, memicu rasa takjub sekaligus penasaran.
Kecanggihan Teknologi AI memang sebenarnya memungkinkan pembuatan animasi ala Ghibli menjadi tambahan mudah dan juga cepat. Hasilnya pun memukau, dengan detail yang digunakan mengingatkan pada film-film animasi Jepun terkenal seperti Spirited Away, My Neighbor Totoro, lalu lainnya.
Pro kemudian Kontra: Antara Kekaguman juga Kekhawatiran
Namun, dalam balik keindahan visual yang dihasilkan, muncul perdebatan sengit di dalam kalangan warganet. Keaslian juga hak cipta gaya animasi Ghibli menjadi sorotan utama.
“Style seperti ini kan ada hak milik ke penciptanya, minimal ke ghiblinya,” kata akun @pr*, mempertanyakan legalitas pengaplikasian gaya animasi tersebut.
Akun @na****** menambahkan, “The disrespect to studio ghibli,” mengungkapkan kekecewaannya.
Sementara akun @ze******* bertanya, “Kenapa pakai Kecerdasan Buatan sih?”, menyuarakan kegelisahan terhadap pemanfaatan Teknologi AI pada seni kemudian kreativitas.
Jawaban dari Sang Kreator
Menanggapi berbagai komentar tersebut, Ainun Najib menjelaskan bahwa pemanfaatan gaya animasi Ghibli diperbolehkan oleh hukum hak cipta Jepang. “Hukum hak cipta Jepun membolehkan ini rupanya, pantesan bisa jadi berbagai style anime,” jelasnya.
Tren yang tersebut Menggugah Pemikiran
Fenomena ini memicu berbagai pemikiran tentang tren seni lalu teknologi pada era digital. Di satu sisi, Artificial Intelligence membuka pintu kreativitas tanpa batas, memungkinkan siapa semata untuk menghasilkan kembali karya seni visual yang mana menakjubkan. Namun, dalam sisi lain, muncul perasaan khawatir tentang keaslian, hak cipta, serta dampak Kecerdasan Buatan terhadap sektor kreatif.
Perdebatan ini mencerminkan kompleksitas hubungan antara manusia serta teknologi. Kecerdasan Buatan menawarkan kemudahan serta efisiensi, tetapi juga menantang pemahaman kita tentang seni, kreativitas,danhakcipta.