Kepala Daerah Morowali Minta Tempat Bersejarah Dijaga, Siap “Blacklist” Industri yang digunakan Sentuh Warisan Budaya

MOROWALI, 15 Februari 2026– Pimpinan Daerah Morowali, Iksan Baharuddin Abd Rauf, menegaskan komitmennya untuk melindungi tempat-tempat bersejarah dalam wilayahnya dari dampak negatif aktivitas industri. Ia menegaskan tak akan segan mengambil langkah tegas terhadap pihak sektor yang berani menyentuh situs-situs budaya lalu sejarah pada Wilayah Morowali.
Pernyataan itu disampaikan Kepala Kabupaten Iksan ketika memberikan sambutan pada acara pelantikan pengurus Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) dan juga Kerukunan Keluarga Sulawesi Tenggara (KKST) Wilayah Morowali, yang digunakan berlangsung pada alun-alun Rumah Jabatan Kepala Daerah Morowali, Desa Matansala, Kecamatan Bungku Tengah, Hari Sabtu (14/02/2026).
Acara pelantikan yang disebutkan bermetamorfosis menjadi peluang penting di mempererat silaturahmi warga Sulawesi Selatan juga Sulawesi Tenggara yang digunakan telah terjadi berubah menjadi bagian dari komunitas Morowali. Selain itu, Kepala Daerah Iksan berharap KKSS kemudian KKST dapat berperan bergerak di menggalang konstruksi daerah, sekaligus menjaga nilai-nilai budaya di dalam berada dalam pesatnya arus industrialisasi.
Dalam sambutannya, Kepala Kabupaten Iksan menekankan pentingnya mempertahankan keseimbangan antara konstruksi kegiatan ekonomi kemudian pelestarian warisan budaya. Ia menegaskan agar seluruh elemen komunitas turut berperan merawat situs-situs bersejarah agar bukan dirusak atau terganggu oleh aktivitas industri.
“Semua tempat-tempat bersejarah tolong dijaga. Kalau ada tempat-tempat bersejarah yang kena oleh industri, infokan terhadap Bupati. Saya akan merawat serta mem-blacklist itu agar tak disentuh oleh mereka, ” tegas Kepala Daerah Iksan yang mana juga dilantik sebagai Ketua KKSS Daerah Morowali.
Bupati Iksan menggambarkan beberapa area yang dimaksud miliki nilai sejarah penting ke Morowali, seperti Topogaro dalam Kecamatan Bungku Barat juga Bahontobungku pada Kecamatan Bungku Tengah, yang dimaksud diketahui menyimpan makam para raja lalu leluhur komunitas Bungku. Ia menekankan agar seluruh masyarakat, siapapun yang tersebut datang berniat baik kemudian bertempat tinggal ke Morowali menghormati sejarah serta budaya area tempat merekan tinggal.
Lebih lanjut, Pimpinan Daerah Iksan juga menyoroti pentingnya melindungi identitas budaya lokal ke berada dalam derasnya pengaruh budaya asing yang tersebut masuk melalui industri. Ia sempat menyinggung pengalamannya mengunjungi salah satu kegiatan perusahaan dalam wilayah Bahodopi, dalam mana acara yang disebutkan justru menampilkan tarian jika Tiongkok yang dimaksud membuatnya hampir meninggalkan acara tersebut.
“Hal ini berubah menjadi PR semua kerukunan yang mana ada pada Morowali, khususnya Dewan Adat Pebotoa Adat To Bungku, untuk melakukan upaya lebih banyak pada menghindari hal-hal yang mana mampu mencederai budaya daerah, ” ujarnya.

Kabupaten Morowali saat ini berubah menjadi salah satu pusat bidang pertambangan serta pengolahan nikel di Indonesia, dengan penampilan beberapa orang perusahaan besar mendebarkan penanaman modal dari beragam negara, diantaranya China tantangan tersendiri untuk terus melestarikan budaya lokal maupun nasional.
Kondisi ini memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah, namun juga menyebabkan tantangan di menjaga kelestarian lingkungan lalu budaya lokal. Dengan pernyataan tegasnya tersebut, Kepala Kabupaten Iksan menunjukkan sikap tegas pemerintah wilayah untuk menegaskan pembangunan lapangan usaha tidaklah mengorbankan nilai sejarah lalu budaya warga Morowali.
“Morowali boleh progresif industrinya, tapi budaya serta sejarah kita bukan boleh hilang. Itu identitas kita sebagai khalayak Morowali, ” tutup Kepala Kabupaten Iksan.



